Inisiatif ini berfokus pada pengolahan sampah Kompos dari Kantin yang bahan bakunya diambil langsung dari sisa-sisa kegiatan di sekolah. Area yang paling banyak menyumbang limbah organik tentu saja adalah tempat makan siswa. Setiap hari, kulit buah, sisa sayuran, dan sisa makanan lainnya dikumpulkan secara terpisah. Para siswa yang tergabung dalam kader lingkungan diberikan pelatihan khusus mengenai teknik pengomposan yang benar, mulai dari proses pencacahan, pencampuran dengan dekomposer, hingga pemantauan suhu dan kelembapan tumpukan sampah agar proses pembusukan berjalan optimal.
Sumber utama bahan baku ini berasal dari kantin sekolah yang sudah bekerja sama dengan tim lingkungan. Pengelola tempat makan diwajibkan untuk menyediakan tempat sampah terpisah antara organik dan anorganik. Langkah sederhana ini merupakan kunci keberhasilan sistem pengolahan sampah di sekolah. Dengan adanya pemilahan di sumbernya, kontaminasi sampah plastik dapat diminimalisir, sehingga kualitas pupuk yang dihasilkan nantinya akan lebih baik. Di Narmada, praktik ini juga menjadi sarana edukasi bagi siswa tentang pentingnya bertanggung jawab atas sisa konsumsi yang mereka hasilkan setiap hari.
Upaya ini merupakan bentuk inovasi pendidikan yang menggabungkan teori sains dengan praktik lapangan. Siswa belajar tentang proses penguraian secara biologis dan peran mikroorganisme dalam ekosistem. Hasil dari pengolahan sampah ini tidak hanya berhenti pada berkurangnya volume limbah ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat. Pupuk organik yang dihasilkan digunakan kembali untuk menyuburkan taman sekolah dan kebun sayur, sehingga tercipta sebuah siklus energi yang mandiri dan berkelanjutan di dalam lingkungan sekolah.
Gerakan daur ulang ini juga memiliki dampak ekonomi dan sosial yang positif. Keberhasilan memproduksi pupuk secara mandiri membuat sekolah tidak perlu lagi membeli pupuk kimia untuk perawatan area hijau. Hal ini menghemat biaya operasional sekolah secara signifikan. Selain itu, para siswa belajar tentang nilai kerja keras dan ketelatenan. Proses menunggu sampah menjadi pupuk yang matang membutuhkan waktu berbulan-bulan, yang secara tidak langsung melatih kesabaran siswa. Pengetahuan ini sangat berharga untuk diterapkan di rumah masing-masing guna mengurangi beban sampah di lingkungan tempat tinggal mereka.
