Mengapa sebagian guru masih kesulitan beradaptasi dengan teknologi baru di sekolah adalah karena adanya kesenjangan generasi (generation gap) yang cukup lebar, di mana mayoritas tenaga pendidik senior tumbuh besar di era analog dan tidak terbiasa menggunakan perangkat digital pintar dalam aktivitas keseharian mereka sejak usia muda. Ketika disrupsi teknologi digital melanda sistem pendidikan secara mendadak, para guru senior ini dipaksa secara instan untuk meninggalkan metode pengajaran konvensional yang telah mereka kuasai selama puluhan tahun dan beralih ke platform manajemen pembelajaran daring yang kompleks. Kurangnya literasi digital dasar, rasa cemas akan melakukan kesalahan teknis di hadapan siswa yang jauh lebih mahir teknologi, serta keterbatasan waktu untuk mempelajari aplikasi baru di tengah beban administrasi sekolah yang menumpuk menjadi faktor utama keengganan mereka beradaptasi.
Mengapa sebagian guru masih kesulitan beradaptasi dengan teknologi baru juga disebabkan oleh minimnya program pelatihan teknologi yang diselenggarakan secara berkelanjutan, aplikatif, ramah pengguna, serta disesuaikan dengan kebutuhan nyata guru di dalam kelas harian. Banyak program pelatihan yang diadakan oleh instansi terkait hanya bersifat seremonial satu arah tanpa adanya pendampingan teknis jangka panjang di lapangan saat guru menemui kendala operasional harian. Selain itu, faktor psikologis berupa ketakutan bahwa peran humanis seorang pendidik akan tergantikan oleh kecerdasan buatan membuat sebagian guru merasa enggan untuk mengintegrasikan gawai ke dalam skenario pembelajaran mereka. Padahal, esensi dari adopsi teknologi di sekolah bukanlah untuk menggantikan posisi guru, melainkan untuk memperingan tugas administratif mereka agar dapat lebih berfokus pada bimbingan karakter siswa secara mendalam.
Untuk mengatasi tantangan kultural ini, pihak manajemen sekolah perlu menerapkan program bimbingan rekan sejawat (peer mentoring) di mana guru-guru muda yang mahir teknologi bertindak sebagai mentor pribadi yang mendampingi rekan guru senior secara sabar dan konsisten. Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan infrastruktur gawai yang memadai serta koneksi internet yang stabil di lingkungan sekolah agar guru tidak merasa frustrasi akibat kendala teknis perangkat yang sering kali lambat saat digunakan bekerja.
Kesimpulannya, penolakan atau kesulitan adaptasi teknologi di kalangan pendidik merupakan masalah sistemik yang membutuhkan pendekatan humanis, sabar, dan terstruktur dari seluruh pihak pemangku kepentingan pendidikan negara. Dengan memberikan dukungan pelatihan yang ramah, berkelanjutan, dan memprioritaskan penyederhanaan beban kerja guru, kita dapat mewujudkan transformasi digital pendidikan yang inklusif, harmonis, serta berdampak nyata bagi peningkatan kualitas belajar siswa di kelas.
