Pelajaran Geografi sering kali hanya dibayangkan sebagai kegiatan menghafal nama sungai, letak gunung, atau jenis-jenis batuan melalui peta yang kusam di dinding kelas. Namun, di SMPN 1 Narmada, Kabupaten Lombok Barat, pengalaman belajar tersebut diubah menjadi sebuah petualangan fisik yang menantang melalui kegiatan Susur Sungai Narmada. Dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar sekolah, para siswa diajak untuk menyusuri aliran sungai guna mengamati fenomena alam secara langsung. Metode ini terbukti jauh lebih efektif dalam menanamkan pemahaman konsep geografi sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan ini dimulai dengan persiapan fisik dan pengenalan materi dasar tentang hidrologi. Sebelum terjun ke lapangan, para Siswa di SMPN 1 Narmada diberikan pembekalan mengenai keselamatan di air dan etika saat berada di alam liar. Saat kegiatan susur sungai berlangsung, sungai tersebut berubah menjadi buku teks raksasa yang terbuka. Siswa diajarkan untuk mengamati erosi di pinggiran sungai, mengukur kecepatan arus secara sederhana, hingga mempelajari bagaimana bentuk alur sungai (meander) terbentuk secara alami. Pengamatan langsung terhadap sedimentasi dan batuan sungai memberikan gambaran nyata yang tidak bisa didapatkan hanya dari melihat gambar di buku.
Fokus dari metode Belajar Geografi ini adalah memberikan pengalaman sensorik yang menyeluruh. Siswa tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar gemuruh air, merasakan suhu air yang berbeda di setiap titik, serta menyentuh tekstur berbagai jenis batuan. Hal ini sangat membantu bagi siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik dan visual. Mereka menjadi lebih mudah mengingat materi pelajaran karena ada memori fisik yang terkait dengan pengetahuan tersebut. Di SMPN 1 Narmada, guru berperan sebagai pemandu yang memberikan tantangan-tantangan kecil di sepanjang perjalanan, seperti mengidentifikasi flora dan fauna yang hidup di ekosistem sungai.
Selain aspek akademis, kegiatan ini juga merupakan bentuk pendidikan lingkungan yang sangat kuat. Selama menyusuri sungai, siswa sering kali berhadapan dengan realita yang menyedihkan, seperti adanya tumpukan sampah plastik atau limbah domestik di aliran air. Pengalaman ini memicu diskusi mendalam mengenai dampak aktivitas manusia terhadap siklus air. Siswa diajak untuk merenungkan bagaimana kualitas air di hulu akan memengaruhi kehidupan masyarakat di hilir. Kesadaran ekologis ini lahir secara organik dari rasa empati setelah melihat langsung kondisi alam yang mereka pelajari.
